Selasa, 28 Februari 2012

SEJARAH MINAHASA



Sejarah Umum Minahasa :
Sejarah Minahasa dibagi dalam empat babakan yaitu : zaman pra malesung, malesung, Minaesa, dan Minahasa. Periodisasi ini berdasarkan peristiwa sejarah yang penting yaitu pada sekitar tahun 700M yatu peristiwa watu tumotowa.Dalam peristiwa watu tomotowa wilayah Minahasa di bagi menjadi emapt wilayah yang disebut puak. Ada emapt puak utama yaitu : Puak Toumuung, Tonsea, Toulour, dan Tontemboan dengan demikian watu tumotowa memilki arti batu pembagian yang wilayah bagi orang minahasa. Peristiwa watu tumotowa memilki arti penting karena merupakan awal dari berdirinya Minahasa Raya yang disebut deklarasi MAESA I. Pada sekitar tahun 1428 terjadi peristiwa penting lagi yaitu peristiwa MAESA II dimana dijadikan dasar dari hari ulang tahun Minahasa, dalam peristiwa tersebut jumlah puak dari anak bangsa Minahasa bertmbah lima yaitu : puak Tousingin, Wangko, Ponosakan, Bantik dan Babontehu. Dalam perjalanan sejarahnya terjadi beberapa kali perubahan diantaranya terjadi fusi antara puak Bantik dan Babontaho menjadi satu lalu dengan demikian mulailah dikenal 7 sub etnis Minahasa.
Asal Suku bangsa Minahasa :
Berdasarkan pendapat para ahli diantaranya A.L.C Baekman dan M.B Van Der Jack yaitu berasal dari ras Mongolscheplooi yang sama dengan Bangsa Jepang. Kesamaan dengan bangsa Jepag ialah memiki lipit Mongolia.

IDENTITAS MINAHASA DALAM SEJARAH

Minahasa, sebuah bangsa yang terletak di jazirah utara pulau Sulawesi, memiliki sejarah yang panjang, seperti halnya bangsa-bangsa lain di republik ini. H.B. Palar, seorang sejarawan dari Minahasa menulis sejarah Minahasa dari zaman kunonya hingga masa penjajahan Belanda dengan menggunakan sumber-sumber dari berbagai perpustakaan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sehinga, melalui bukunya yang berjudul "Wajah Lama Minahasa" ini, beberapa fakta sejara baru terungkap, demikian beberapa hal lagi bertambah untuk mencari akar identitas orang Minahasa. 


Kesulitan untuk mencari mengenai asal usul orang Minahasa adalah karena tidak adanya dokumen tertulis dari masa awal itu yang menceritakan langsung tentang siapa dan kapan nenek moyang orang Minahasa berada di tanah ini. Cerita tentang siapa leluhur Minahasa kebanyakan diambil dari dokumen-dokumen para misionaris Spanyol dan Portugis, serta para zending Belanda. Dokumen-dokumen itu kebanyakan dalam bentuk laporan, yang data-datanya adalah hasil observasi dan apa yang diceritakan secara lisan oleh orang-orang Minahasa di masa itu. 


Sejarah orang Minahasa umumnya di tulis oleh orang-orang asing yang datang ke tanah ini dengan maksud penginjilan. Palar mencatat beberapa nama yang sejak abad 19 berusaha mencari jawab mengenai asal usul orang Minahasa, mereka antaranya: Dr. JGF Riedel, Pdt. Wilken, Pdt. J. Wiersma. Meski beragam cerita yang mereka dapat, namun umumnya mereka mengemukakan tiga tokoh sentral terkait dengan nenek moyang orang Minahasa, yaitu Lumimuut, Toar dan Karema. 


Karema, dimengerti sebagai "manusia langit", dan Lumimuut dan Toar adalah leluhur dan cikal bakal dari orang-orang Minahasa. Manusia awal di Minahasa yang berasal dari Lumimuut dan Toar, dikisahkan adalah pertama, Makarua Siow atau golongan dua kali sembilan. Kedua, makateluh-pitu atau golongan tiga kali tujuh. Ketiga, Pasiowan telu, atau orang kebanyakan. Tempat semula dari Lumimuut dan Toar serta keturunannya disebut Wulur Mahatus. Kelompok-kelompok awal ini kemudian berkembangan biak dan bermigrasi ke beberapa wilayah di tanah Minahasa. 


Ketika keturunan Lumimuut-Toar semakin banyak, maka pada suatu waktu mereka mengadakan rapat di sebuah tempat yang ada batu besarnya (batu itu yang kemudian disebut Watu Pinawetengan). Di sana para leluhur Minahasa bermusyawarah untuk bersepakat tentang pembagian tanah. Peristiwa itu menurut perkiraan terjadi sekitar abad VII atau VIII. 


Perkembangan kemudian adalah ketika orang-orang Minahasa terbagi pada beberapa sub etnis. Awalnya ada empat subetnis, yaitu Tombulu, Tonsea dan Toutemboan. Belakangan lahir sub-sub etnis yang lain, yaitu Toulour, Tonsawang, Pasan, dan Bantik. 


Nama "Minahasa" sendiri digunakan belakangan setelah masa-masa awal itu. "Minahasa" umumnya diartikan "telah menjadi satu". Palar mencatat, berdasarkan beberapa dokumen sejarah disebut bahwa pertama kali yang menggunakan kata "minahasa" itu adalah J.D. Schierstein, Residen Manado, dalam laporannya kepada Gubernur Maluku pada 8 Oktober 1789. "Minahasa" dalam laporan itu diartikan sebagai "Landraad" atau "Dewan Negeri" atau juga "Dewan Daerah". 


Dalam sejarahnya di tahun-tahun itu, selain Minahasa pernah terlibat perang dengan Bolaang Mongondow, Minahasa juga pernah berperang dengan Spanyol yang dimulai tahun 1617 dan berakhir tahun 1645. Perang ini dipicu oleh ketidakadilan Spanyol terhadap orang-orang Minahasa, terutama dalam hal perdagangan beras, sebagai komoditi utama waktu itu. Perang terbuka terjadi nanti pada tahun 1644-1646. Akhir dari perang itu adalah kekalahan total Spanyol, sehingga berhasil diusir oleh para waranei (ksatria-ksatria Minahasa). 


Di rentang tahun 1679 sampai 1809, adalah masa Kompeni Belanda dengan VOCnya. Di masa ini terjadinya ketegangan yang cukup panas antara hukum adat orang Minahasa dengan hukum Belanda. Perjumpaan antara orang-orang Belanda dengan Minahasa memang tidak terjadi secara baik, karena motivasi orang-orang Belanda sudah tentu ada menjajah. Sementara orang Minahasa tidak suka dijajah. Sejumlah perjanjianpun dibuat untuk berusaha menaklukan orang Minahasa. Tapi, perlawanan pun harus terjadi, puncaknya adalah Perang Tondano yang terjadi tahun 1808 sampai 1809. 


Perang Tondano, yang berlangsung selama 11 bulan dan 4 hari itu, terjadi secara herois. Demi mempertahankan kedaulatan Tanah Minahasa, para waranei Minahasa rela mati. Pada tanggal l4 malam jelang tanggal 5 Agustus 1809, perang berkecemuk dengan sengitnya, dan berakhir dengan kakalahan orang Minahasa. Fakta sejarah ini, sekaligus membuktikan bahwa orang Minahasa adalah orang-orang yang rela mempertaruhkan nyawanya demi kemedekaan tanahnya. Sekaligus juga mengkoreksi stigma banyak orang kepada orang-orang Minahasa, bahwa "orang-orang Minahasa penjilat Belanda". Stigma itu sudah tentu tidak benar, karena Perang Tondano, adalah Perang Minahasa melawan Belanda.

Sumber: http://id.shvoong.com/books/1924921-menggali-identitas-minahasa-dari-sejarah/#ixzz1nb0lVJfF

Senin, 27 Februari 2012

MAKNA KALIMAT " PAKATUAN WO PAKALAWIRE"N

PAKATUAN wo Pakalawiren merupakan istilah umum yang berlaku di Minahasa. Biasanya diucapkan di akhir sebuah pidato atau kata sambutan. Namun tahukah Anda apa makna dari kata-kata itu?Yang menarik, beberapa pihak yang kerap menggunakan kalimat itu ternyata tak sepenuhnya paham apa maknanya. Setidaknya itu kesan yang aku dapat ketika secara acak bertanya kepada sejumlah pihak, beberapa saat setelah mereka berpidato.


"Hmmm... Itu kwa kalimat tua... Itu tua-tua biasa ja bilang kalu ada pidato," begitu kilah salah satu pembicara ketika aku tanya.


Beberapa teman pun umumnya menjawab dengan diplomatis, dan sama sekali tak menyentuh substansi.


Jadi, apa makna dari kalimat Pakatu'an wo Pakalawiren itu? 


Kata pakatuan berasal dari kata dasar tu'a. Yang artinya tua atau lanjut usia. Pakalawiren kata dasarnya lawir, yang maknanya lestari, atau abadi. Ditambah imbuhan 'paka' (atau peke) dan kata sambung 'wo' yang artinya 'dan' atau 'dengan', maka kalimat pakatuan wo pakalawiren artinya harfiahnya: Semoga lanjut usia dan tetap lestari. 

Atau terjemahan bebasnya: Semoga panjang umur dan sehat selalu.

Dengan berlalunya waktu, di beberapa daerah di Minahasa kalimat 'Pakatuan wo pakalawiren' telah dimodifikasi. Menjadi: Pakatu'an wo Pakalawiren wo... Pakatangan..

ASAL KATA MINAHASA

Mina = Menjadi, Esa = Satu
Tanah Minahasa dulunya disebut Tanah Malesung teletak di Pulau Sulawesi bagian Utara pada posisi 0 derajat 55’ sampai 1 derajat - 55’ Lintang Utara, dan 124 derajat – 20” bujur timur. Luas tanah Minahasa sekitar 5.273 km persegi, termasuk didalamnya Kota Bitung, Kota Manado, Kota Kotamobagu dan Kota Tomohon. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kep. Sangihe-Talaud dan sebelah Selatan dengan Kabupaten Bolaang-Mangondouw, batas timur dengan laut Maluku, dan batas barat dengan Laut Sulawesi.

SEJARAH WATU PINAWETENGEN-MINAHASA

Oleh Danny Gerungan
Minahasa merupakan salah satu bagian dari wilayah Prov. Sulawesi Utara, dimana sebelum dinamakan Minahasa, wilayah ini dikenal dengan nama tanah MALESUNG.
Keadaan geografi tanah malesung terdiri dari pegunungan dataran tinggi serta bukit-bukit. Menurut sejarah pada tahun 1428 menunjukan bahwa penduduk tanah Malesung pemukimannya terpencar-pencar dan hidup berkelompok sehingga satu sama lain tidak bisa berkomunikasi terlebih tidak ada saling bantu membantu dalam hidup kebersamaan, hal ini sering terjadi dikala para penduduk ini mempertahankan wilayahnya dari serangan / pengacau yang datang seringkali gagal, demikian halnya pada saat mereka mengolah pertanian atau lebih sering pada saat berburu selalu terjadi pertentangan karena ada penduduk yang telah memasuki wilayah lain sehingga masing-masing saling mempertahankan wilayahnya.
Menyadari akan hal ini sering terjadi permasalahan maka oleh leluhur atau para tonaas tanah malesung mencari suatu tempat untuk diadakan pertemuan para pemimpin suku guna mencari solusi mengatasi masalah yang terjadi di tanah Malesung, dan setelah mereka mencari tempat maka didapatlah suatu tempat yang terletak disebuah bukit yang bernama bukit Tonderukan nama lokasi ini ditemukan oleh J.G.F. Riedel pada tahun 1881 yang berdasarkan ceritera rakyat disebut “ Watu Rerumeran ne Empung “ atau batu batu tempat para leluhur berunding yang mana disitu terdapat sebuah batu besar dan ditempat inilah berkumpul para pemimpin sub etnis Tou Malesung berikrar untuk menjadi sastu yakni menjadi satu Tou Minahasa sebuah kata yang berarti “ Mina “ (menjadi), “ Esa “ (satu) dalam perkembangannya sehingga tercetuslah menjadi MINAHASA.
Watu Pinawetengan dalam sejarah sampai saat ini banyak penafsiran-penafsiran yang timbul melalui penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti yang antaranya mengataka bahwa Watu Pinawetengan itu adalah :
  1. Tempat pertemuan para pemimpin Sub Etnis Minahasa untuk membagi-bagi Wilayah dan bahasa masing-masing etnis
  2. Sebagai tempat pertemuan para pemimpin sub Etnis untuk bermusyawarah menjadikan tanah Minahasa
  3. Sebagai tempat berunding para leluhur
  4. Tempat berikrar untuk bersatu melawan gangguan dari luar seperti Tasikela (Spanyol) dll.
Melihat beberapa pandangan tentang pengertian dan fungsi Watu Pinawetengan maka dapat disimpulkan bahwa Watu Pinawetengan merupakan suatu tempat berunding para pemimpin sub etnik yang ada di Minahasa untuk berikrar bahwa sub etnik di Minahasa walaupun hidup berkelompok tapi berstu untuk menghalau para pengacau dari luar serta membangun wilayah-wilayah yang ada di Minahasa yang ditandai dengan coretan-coretan yang ada diatas patu tersebut..
Watu Pinawetengan sampai saat ini tidak akan dilupakan oleh Tou Minahasa baik yang tinggal di Minahasa maupun yang di luar Minahasa karena tempat ini merupakan legenda hidup masyarakat Minahasa yang memiliki nilai sacral sehingga tidak akan hilang dari hati Tou Minahasa.
Pakatuan Wo Pakalawiren
http://www.minahasa.go.id/